thasya sugito

sederhana...seperti halnya kayu yang membakar api! sederhana...seperti halnya bulan mencintai malam! sederhana...seperti halnya isyarat awan pada hujan! sederhana...karena kita kan kembali padaNya yang maha agung... sederhana...karena Allah mencintai kesederhanaan hambaNya...

Tuesday, October 21, 2008

Mendidik dangan Cinta...Mengasuh dengan Ilmu

Beberapa sahabat sering menjadikan kami (saya dan suami) sebagai referensi mereka dalam menjalankan peran sebagai orangtua. Terutama bila berhubungan dengan kesehatan dan pendidikan anak mereka. Kami pikir, mungkin mereka melakukan itu karena melihat perkembangan anak kami yang (alhamdulillah) sehat, dan cukup cerdas untuk anak seusianya.

Ya, alhamdulillah kami diberi karunia anak yang sehat sehingga sangat jarang kami membawa anak ke dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya, kecuali bila memang sudah sangat dibutuhkan (e.g. sakit gigi). Dalam Medical recordnya pun terakhir kali dia kami bawa ke dr. SpAk adalah tiga tahun yang lalu (sekarang usianya 4thn 2bln); itupun karena ia sakit demam selama 4 hari dan saat itu sedang endemi DBD di kota bandung. Hanya karena ingin memastikan anak kami tidak terkena DBD-lah, kami bawa ia ke dr. SpAk-nya.

Namun, bukan tanpa ikhtiar semua karunia itu kami peroleh. Sejak masa kehamilan saya, kami berdua banyak belajar dari sahabat-sahabat WNA kami. Dari mereka kami belajar bahwa di luar negeri, dokter berfungsi sebagaimana seharusnya, yaitu sebagai konsultan, dan BUKAN pemberi obat (yang satu ini sebetulnya fungsi orang farmasi –red). Sayangnya, masyarakat Indonesia seringkali membuat para dokter mengalami dilema, karena sering ada anggapan, bahwa kalau pulang dari dr tidak dapat obat/resep, artinya dokter tersebut TIDAK BAGUS. Teman-teman WNA saya juga bilang bahwa kesehatan anak akan lebih terjaga kalau dia tidak banyak ‘di-BOM’ oleh obat-obat kimia. Awalnya saya tidak percaya, sampai suatu hari saya bertemu dengan dr. Purnamawati –seorang dokter spesialis anak yang memiliki idealisme tinggi untuk mengembalikan fungsi dokter sebagai konsultan kesehatan dan menyadarkan para orangtua tentang cara menjaga kesehatan anak dengan benar.

Sejak saat itu kami selalu berusaha browsing informasi mengenai kesehatan sebanyak mungkin, terutama dari sumber-sumber informasi yang valid dan tidak memihak.

Beruntung, saya banyak bekerjasama dengan institusi-institusi pendidikan kesehatan dan para WNA, ditambah dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang alhamdulillah cukup memadai untuk dapat membaca informasi-informasi yang berbahasa Inggris. Berbekal itu semua, saya berusaha menjaga kesehatan anak kami dengan ‘cara kami’. Awalnya muncul beragam protes dari orangtua kami. Mulai dari sunatan anak kami yang kami lakukan bersamaan dengan saat aqiqahnya, keengganan kami untuk memakaikan bedong saat anak kami baru lahir, tidak memberi obat di hari-hari pertama anak kami demam, mulai ‘menenggelamkannya’ di kolam renang pada usia 4 bulan, dan seabrek perubahan lainnya, yang menurut orangtua kami adalah ‘kejam&tidak sayang anak’.

Seiring waktu, anak kami pun bertambah besar, akhirnya orang tua pun menyadari bahwa apa yang kami lakukan, semuanya didasarkan pada referensi kami yang kami kumpulkan dari mana-mana. Dan, alhamdulillah, anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat, ceria, dan aktif.

KIni, kami sama sekali tidak pernah lagi mengkonsumsi maupun memberi obat-obatan kimia pada anak kami. Kami sangat yakin pada obat herbal yang diwariskan nabi kepada umat muslim. Kami hanya mengkonsumsi Habbatussauda dan madu sebagai multivitamin dan juga obat dikala kami sekeluarga ada yang sakit. Kini, kebiasaan ini kami tularkan pula pada teman-teman dan keluarga kami. Alhamdulillah, berkat keyakinan pada Allah sang maha penyembuh, dan berikhtiar dengan obat yang diwariskan Rasulullah, kami sekeluarga lebih sehat.

Pada tulisan-tulisan berikutnya insya Allah akan kami paparkan tips dan trik menjaga anak tetap sehat dan cerdas dengan cara yang rasional.

Monday, September 29, 2008


Saturday, March 22, 2008

RABBANA ...

segala tentangMu adalah kekaguman
segala tentangMu adalah rasa tak berpunya
yang kian hadir atas syukur yang tak terukur
karena tak pernah bisa terhitung
luas rahmat dan karuniamu

segala tentangMu adalah cerita
tentang kekayaan ilmu yang maha luas
segala tentangMu adalah kisah
tentang kemaafan yang maha agung
karena tak pernah henti
kau beri kami ampunanMu

Rabbana,
sungguh tak pernah cukup rasanya
lidah ini mengucap syukur...
karena pemberianMu yang selalu bertambah
dan jauh lebih luas
dari Samudra dunia

Fabiayyi ’alaa irabbikuma tukadzibaan